
Setiawan Liu
Souw Beng Kong, Kapitein der Chinezen atau kerap disebut Souw Beng Kong (SBK) adalah kapitein Tionghoa pertama di Batavia, sekaligus perintis perekonomian pada awal abad ke-17. Souw Beng Kong lahir di Tong An, Fujian tahun 1580.
Souw Beng Kong , Kapitein der Chinezen atau kerap disebut Souw Beng Kong (lahir di Tong An, Fujian, Dinasti Ming, 1580 – meninggal di Batavia, Hindia Belanda, 1644 adalah Kapitein Tionghoa pertama di Batavia, sekaligus perintis perekonomian pada awal abad ke-17. Souw Beng Kong lahir di Tong An, Fujian tahun 1580, pada masa Dinasti Ming . Ia seorang tokoh yang diandalkan Gubernur Jenderal pertama Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen, saat gagal membuka Batavia sebagai pusat perdagangan.
Kisah historis ini kenang kembali oleh Nani. Perempuan kelahiran, 1953 tetap bertahan untuk hidup di seputaran makam Souw Beng Kong, di Jl. Pangeran Jayakarta Mangga Dua Selatan sampai sekarang. Perempuan paruh bahan ini sehari-harinya mengumpulkan sampah botol plastic dan barang bekas untuk dijual demi menyambung hidup.
Bagi Nani, makam bersejarah ini dianggapnya sebagai tetangga.
Ia tidak bisa melupakan suasana bermain dengan teman-teman semasa kecilnya. Satu hal yang tidak pernah dilupakan, dia sering duduk-duduk di atas batu-batu penunjang nisan dan makam Beng Kong.
“Waktu masih kecil, (sambil duduk) saya goyang-goyang kaki bersama teman-teman. Sekarang, teman-teman saya sudah meninggal semua,” kata Nani dalam perbincangan dengan Setia Liu dari zonanusantara. com belum lama ini.
Makam itu menjelma menjadi tempat kongkow keluarga sekitar. Pandangan lain sekitarnya terdapat bahan material seperti jenis besi dan baja konstruksi termasuk plat, stainless, sheet pile, wire rod dan lain sebagainya. Di antara deretan toko distributor besi dan baja konstruksi, ada plang penunjuk arah ke area makam Souw Beng Kong.
“Batu-batu tempat kami duduk-duduk, bermain pada tahun 1960 an sudah ditimbun tanah, pasir, semen berkali-kali. Ubin-ubin asli yang dibuat pada zaman Belanda, ukurannya besar-besar kini sudah ditimbun,”beber Nani mengenang.
Dalam kondisi memprihatinkan seorang perempuan muda yang berjualan makanan-minuman sambil menjaga makam. Ia khawatir kalau tidak dikunci, banyak warga yang duduk-duduk mengotori lantai makam
Ada juga ruangan kecil untuk menyimpan peralatan sembahyang seperti hiolo tempat dupa (untuk persembahyangan umat Buddha dan Khong Hucu), hiolo keramik dan lain sebagainya. Ada juga stok kertas sembahyang emas dan perak yang sering digunakan melalui pembakaran.
“Tapi sejak covid tidak ada lagi warga yang datang sembahyang. Mahasiswa juga tidak pernah datang lagi,” pungkas Nani seraya menambahkan hanya petugas (tenaga) kesehatan untuk menyuntik vaksin covid untuk warga sekitar Mangga Dua dan (jalan) Pangeran Jayakarta. Kalau dulu sebelum covid, rombongan umat yang mau bersembahyang, (jumlahnya) bisa sampai bus-bus besar,” kata Nani.






