
Oleh : Hendrika L. Wariati
Berangkat dari misi yang sama, beberapa lembaga yang terdiri Women Crisis Center (WCC) Dian Mutiara Parahita Malang, Lembaga Paralegal Kota Malang (LPKM), Annderpati, ikatan Keluarga Raflesia Bengkulu (IKRB), Universitas Wisnu Wardhana Malang (Unidha), dan Meteor Cell menggelar acara bersama di Transmart Malang belum lama ini.
Sinergi beberapa elemen tersebut terwujud dalam kegiatan yang dirangkai dalam bedah film dan talkshow, yang menghadirkan para Kartini masa kini dan pemuda dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI).
Film berjudul Akusara, ditulis oleh Ida Pramaesti, yang juga penggagas Annderpati, yang merupakan lembaga pendidikan non formal untuk pendidikan karakter.
Akusara diambil dari bahasa Sansekerta berarti yakin, sukses. Film ini mengisahkan perjuangan anak-anak muda dalam menggapai mimpi.
Ida menjelaskan inspirasi film ini dari kisah persahabatannya ketika masih di bangku sekolah, dimana mereka saling mendukung untuk meraih prestasi.
“Sewaktu sekolah, saya punya lima sahabat yang saling mendukung untuk menjadi juara. Kami belajar bersama, dan itu asyik,” katanya.
Serangkaian talkshow psikologi dan hukum juga digelar bersama empat tokoh Kartini, yakni Sri Rahayu, Amd, Sri Wahyuningsih, SH, M.Pd, Prof. Dr. Kustyarini, S.Pd, S.Psi, M.Pd, dan Andriyani Febriyanti, ST.
Acara yang dipandu oleh moderator Ade Laressa, S.Psi, M.Si, tersebut dihadiri mahasiswa, umum dan sejumlah media yang diundang dalam acara tersebut.
Sri Rahayu, yang akrab dipanggil Ayu mengatakan perempuan harus bisa mandiri.
“Perempuan itu harus mandiri, selain mengurus rumah juga harus bisa mencari tambahan penghasilan,” kata pengusaha properti yang tampil cantik.
Sri Wahyuningsih, dosen dan pendiri WCC, yang tampil dengan busana kebaya menyampaikan keprihatinannya terhadap kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan, terutama remaja.
“Korban kekerasan seksual ini harus dibantu dan dilindungi oleh masyarakat dan juga pemerintah,” jelasnya.
Sri Wahyu menambahkan, “Women Crisis Center ini memberikan pelayanan secara gratis kepada masyarakat, silahkan datang kapan saja dibutuhkan.”
Selanjutnya Prof. Kustyarini, dosen psikologi dan kepala pusat studi gender Universitas Wisnu Wardhana ini membacakan surat-surat Kartini dengan gaya sastranya yang indah.
Andriyani Febriyanti, sarjana teknik yang kini membidangi usaha traveling, berkomitmen untuk mendukung sektor pariwisata Indonesia.
“Sebagai bentuk dukungan, kami bersinergi dengan universitas yang ada jurusan pariwisata,” jelasnya.
Keempat tokoh Kartini kota Malang ini menjadi inspirasi bagi masyarakat khususnya perempuan agar mandiri, tangguh, cerdas dan bijaksana.
Hendrika L.Wariati: Wartawan Sastra, anggota Persatuan Artis Film (Parfi) Kota Malang.





