Pesan Idul Fitri dari Perbatasan Timor Leste

Pesan Idul Fitri Dari Perbatasan Timor Leste
Foto Sius Lopez
Pesan Idul Fitri Dari Perbatasan Timor Leste
Foto Sius Lopez

Oleh Sintu Lopez – Kefamenanu 

Momentum hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1444 H terasa istimewa. Khusus di daerah perbatasan antar negara yang berpenduduk mayoritas non Muslim, perayaan Idul Fitri di tengah masyarakat mayoritas Kristen nuansa kerohaniannya berkesan dan mendalam. Kaya akan makna kehidupan.

Hal ini diungkapkan H. Yayan Mulyana, S.Ag dalam kotbahnya di
Masjid Al Mujahidin Kefamenanu, Senin (2/5).

Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kemenag TTU, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini menjelaskan
kehidupan di dunia ini sejatinya adalah sebuah ujian dari Allah SWT, bahkan para nabi dan utusan Allah pun tak luput dari ujian.

“Sejak kita terlahir di dunia ini, dihadapkan dengan berbagai ujian, ketika akan memasuki sekolah ada ujian, disetiap kenaikan kelas ada ujian, dan bahkan mau lulus pun ada ujian. Ketika akan melamar kerja kita diuji dan saat promosi jabatan pun pasti ada seleksi ujian,” ujarnya.

Dilanjutkan, kehidupan dunia ini, sejatinya adalah ujian, di mana tempat kelulusannya adalah kehidupan akhirat kelak yaitu surga atau neraka, bahagia atau sengsara selamanya. Allah berfirman di awal Surat al-Mulk:

“Maha suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”ungkapnya.

Menurutnya, ujian yang diselenggarakan manusia tentu sangat berbeda dengan ujian yang diselenggarakan Allah SWT. Ujian di sekolah maupun di dunia kerja sangat bersifat rahasia, jangankan jawabannya, soal-soalnya pun bersifat rahasia. Sangat berbeda dengan ujian masuk surga, jangankan soal-soalnya, kunci jawaban pun sudah diberitahukan Allah dan sudah menjadi rahasia umum.

Baca Juga :  Ketua DPD RI Ingatkan Pentingnya Toleransi dan Solidaritas Hadapi Pandemi

Maka sungguh bodohlah kita jika tidak lulus masuk Surga. Dan kunci masuk surga itu adalah kalimah la ilaha illa Allah. Itu adalah kalimat Tauhid, yaitu kalimat pembeda antara kita dan saudara-saudara kita (non-muslim), kalimat penentu kebahagiaan di Surga atau kesengsaraan di neraka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang-orang yang mengucapkan La Ilahaillalloh yang dia mengharapkan wajah Allah.” [Mutafaq alaih]

Kalimat Tauhid tersebut tentu bukan hanya sekedar diucapkan, tapi perlu diyakini dengan sepenuh hati bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan keyakinan tersebut dibuktikan dengan pengabdian dan penghambaan diri kepada Allah dengan berbagai macam ibadah, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi perkara yang dilarang oleh-Nya.

Hidup dan mati adalah ujian, Sekaligus peringatan dari Allah bagi kita, bahwa kita di dunia ini tidak akan lama, pasti akan ada akhirnya. Untuk mempertanggung jawabkan Apa yang kita lakukan, yang baik ataupun yang jelek di hadapan Allah SWT. Semua yang kita lakukan tidak ada yang tersembunyi bagi Allah. Baik dilakukan terang terangan ataupun sembunyi sembunyi, Pasti akan dihisab dan akan dimintai pertanggung jawabanya. Firman Allah SWT :

“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. AL Qiyamah : 36)

Baca Juga :  Gandeng PWI, BPF Malang Salurkan Hewan Kurban

“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.” (QS. Al Muddassir:38)

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra: 36)

Dalam kotbahnya H. Yayan Mulyana, menegaskan tangan yang kita gunakan ini akan bersaksi, mata yang kita gunakan untuk melihat akan bersaksi, mulut yang kita gunakan untuk berucap akan bersaksi, kaki yang kita gunakan untuk melangkah akan bersaksi, telinga yang kita gunakan untuk mendengar akan bersaksi, tempat yang kita duduki ini akan bersaksi, pakaian yang kita pakai ini akan bersaksi, harta yang kita imfakkan/sedekahkan/kita zakatkan akan bersaksi.

Semuanya akan bersaksi di hadapan Allah SWT. Baik dalam kebaikan maupun dalam kemaksiatan, tidak ada satu pun yang luput, Semua akan mendapat perhitungannya. Beruntung sekali, andaikata yang bersaksi adalah kebaikan, tapi alangkah malangnya dan ruginya nasib kita, jika yang bersaksi adalah keburukan, apa pun yang tidak diperlihatkan di dunia, di akhirat nanti akan Allah perlihatkan, orang tua akan tahu. apa pun yang tidak diperlihatkan di dunia, di akhirat akan perlihatkan.

Orang tua tahu apa yang dilakukan anaknya, Istri akan menyaksikan apapun yang diperbuat suaminya, Suami akan melihat apa yang dilakukan istrinya.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts