Momen Terindah di Masjid Maskhadul Khair

Momen Terindah Di Masjid Maskhadul Khair
Nunu dan Asdar
Momen Terindah Di Masjid Maskhadul Khair
Nunu Dan Asdar

Josef Naiobe

Matahari di atas langit Kabupaten Bone, mendadak menyengat. Padahal jam baru saja menunjukkan angka 08.00 witeng, namun fajar keburu kabur. Alam memberi isyarat, kondisi cuaca sedang bersahabat. Mengakrabi aktivitas keseharian.

Seiring dengan itu, suasana di dalam masjid Maskhadul Khair, di Desa Watang Palakka, Senin, 21 Maret 2022 tampak syahdu. Saat itu, ada peristiwa bersejarah di masjid yang dibangun ayahanda Hj. Andi Nurul Azisah Abbas, Dr Andi Abbas, SH MSI. Pejabat salah satu BUMN, di Perhubungan Laut, rela menyulam masjid yang dulunya tampak sederhana menjadi jauh lebih elegan dan mewah. Persembahan buah tangan Kepala Syahbandar, Bojoe, 2011 ini untuk umat Islam setempat.

“Kalau saya tidak melakukan hal kebaikan kapan lagi. Dan saya merasa puas, jika rumah ibadah ini bermanfaat bagi umat Muslim,”ungkap ayah empat anak ini.

Catatan penting yang terjadi, masjid Maskhadul Khair, menjadi saksi Hj. Andi Nurul Azisah Abbas, S.Ked, dengan, Asdar Yusup S.TrT. Kedua pasangan ini mengikrarkan janji suci untuk sehidup semati, dalam menerjang kehidupan bergelombang penuh badai.

Perjodohan dua sejoli ini, sangat unik. Mempelai perempuan, kelahiran 16 Maret 1996, berstatus sebagai ASN di lembaga Kehakiman ini adalah teman bermain suaminya saat ini ketika masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

Pertemanan yang dibangun sejak masa remaja, melegenda menjadi cinta sejati. Kelak akan menjadi cerita turun-temurun bagi anak cucu.

Baca Juga :  Catatan dari Lereng Gunung Bromo

Menjelang akad nikah atau ijab qabul di depan penghulu, para tamu dari kedua mempelai tampak padat memenuhi masjid yang berlokasi sangat strategis di poros utama Makassar menuju Kendari. Kerabat antusias menyaksikan detik-detik janji suci kedua mempelai.

Tepat pukul 09 pagi MC (master cerimoni) memandu pengantin laki-laki, untuk masuk ke dalam masjid, yang telah di tunggu penghulu bersama saksi, diiringi tarian Padduppa. Alunan musik tradisional Bugis Bone mengalun sendu. Perlahan, syahdu. Memformulasikan ksatria laki-laki menjemput sang biduan ke pelaminan.

Hidup ini memang pantas dipestakan.

Usai sudah akad nikah. Setelah pengantin laki-laki, menunaikan janjinya untuk mencintai istrinya, segenap jiwa dan raga. Wajib meneguk anggur cinta dari satu piala yang sama. Menjemput kebahagiaan laksana anak gembala pulang kandang diselingi seruling bambu.

Di lokasi berbeda, di Masjid Agung kota Bone. Pelataran masjid nan mewah itu dihiasi asesoris representatif. Menggambarkan rona putra mahkota dan permaisuri bak kisah dewa-dewi.

Tampak pula, berderet karangan bunga mulai dari Presiden Joko Widodo, Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR RI, Bamsoet, (Bambang Soesatyo), Puan Maharani dan Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Tak ketinggalan Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, Wakil Ketua Komisi V, Ridwan Mbae, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mantan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, serta pejabat lain yang tak bisa disebutkan semuanya dalam ruangan yang terbatas ini.

Baca Juga :  Puisi akhir Pekan

Khalayak pun bertanya-tanya perihal karangan bunga yang dikirim para pemangku kepentingan di negeri ini. Siapa gerangan Andi Abbas, doktor bidang hukum, jebolan UMI Makassar. Usut punya usut ayahanda mempelai perempuan ini, telah lama membangun akselerasi dengan para petinggi negara ini. Maka tak ayal ketika putri sulungnya nikah, para pejabat negara itu ikut berbahagia, yang disampaikan melalui karangan bunga.

Tepat pukul 15.00 wib, adzan berkumandang, panggilan Allah. Waktu bagi umat Islam menjalankan solat ashar. Semarak pesta pun sejenak berhenti. Dan itulah akhir dari perjalanan cinta seorang Hj. Andi Nurul Azisah Abbas, S.Ked, dengan, Asdar Yusup S.TrT, meraih kursi pelaminan disaksikan ratusan kerabat, termasuk orangtua kedua mempelai.

Ketika senja condong ke ufuk barat, matahari pun tenggelam. Usai sudah perhelatan Akbar nan suci itu. Angin sepoi menyapu. Isyarat pemilik pesta harus segera pulang.

Josef Naiobe, asal Timor, wartawan sastra kerja di Senayan Jakarta

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts