
Hendrika LW
Kata orang, kelahiran, jodoh, kematian adalah suratan tangan. Aku mengiyakan saja walau tak mengenakkan buatku. Sama sekali. Aku tak punya daya untuk melakukan apa-apa. Mandi sendiri saja aku tak bisa. Ya Tuhan, dua puluh tahun aku terpasung di kursi roda. Kali ini aku protes. Mengapa aku dilahirkan seperti ini? Mengapa?
Berbagai upaya pengobatan sudah dilakukan orangtuaku. Tapi hasilnya nihil. Aku tetap seperti ini. Semakin dewasa makin memberatkan orangtua. Saudara-saudaraku tak ada yang peduli. Bahkan sering mengataiku malas, manja. Tak berguna. Dasar payah! Payah! Ah, diriku memang benar-benar payah.
Lebih payah lagi, aku jatuh cinta pada Sopyan, yang kukenal lewat media sosial. Beberapa kali Sopyan mengunjungiku. Aku semakin jatuh hati padanya. Tapi orangtua menentang dengan alasan kondisiku. “Ya Tuhan, apakah aku tak punya hak cinta?”





