Yulius Salu – Perbatasan Timor Leste.
Engkau seharusnya tahu bahwa buih-buih asmara yang menari diatas janji yang terbangun adalah tenunan penghayatan nurani yang telah melewati puing-puing cinta terhempas.
Di hatiku hanya ada satu cinta dan aku tak ingin membaginya, sekalipun engkau telah memberiku keputusan untuk tak lagi mengharapkan kepulanganmu.
Engkau memang cantik. Dan bisa membeli seribu hati dan aku salah satunya, walau aku harus mengatakan, mencintaimu itu kesalahan. Aku menjadi contoh bagi diriku sendiri yang terjerat dan jika kita masih bisa bertemu, aku ingin kau jujur menjelaskan, apa yang sesungguhnya ada di dasar hatimu. Dengan berkata jujur, engkau belajar mengenal dirimu dan dengan berkata lebih jujur, Engkau belajar mengenal orang lain.
Di dunia ini, banyak keindahan yang bisa memindahkan keraguan dan banyak harapan kandas terjadinya ketidaksetiaan. Dan engkau tahu, aku bukan tidak setia pada cintaku.
Jauh menempuh perjalanan bersama waktu yang tak pernah lelang dan kabut musim mulai merenda, meriasi kemarau yang siap menepi, dan alam yang diam bagai sedang menangisi kepiluanku, maka kesukaan ini terasa ada. Padahal aku sesungguhnya tak begitu peduli pada kisahku ini. Aku terlanjur mencintai dan cinta itu ada di dada ini.
Engkau memang cantik, membuatku terhuyung-huyung dalam kerinduan, tapi kepulanganmu bukan impianku. Aku bisa tidur nyaman melewati malam yang panjang dan paginya hatiku bersukaria menatap kupu-kupu di pucuk melati. Keriangannya membuat hariku indah dan seolah diajarkannya aku untuk berdamai dengan hatiku, sebelum kerinduanku yang kadang-kadang ada semakin menenggelamkanku.
Akhir pekan ini aku akan melewatinya dalam kesedihan, itu pasti. Akan kucoba hayati dengan jujur dan melihat dunia ini tidak selebar cinta, karena aku yakin di sisi ruang hati yang pernah keikhlasan untukmu, masih ada sisa cinta yang bisa kerajinan ulang untuk menghiasi gapura hatiku.
Tentu bagimu di atas cinta masih ada cinta, tapi engkau juga harus tahu di dalam cinta hanya ada cinta, maka hayatilah itu sebelum cinta menguburmu dalam ketakpahaman. Ada saatnya engkau merasa begitu kuat membajak, tapi jangan lupa bahwa bulir-bulir peluh menetes melemahkan pori-porimu di waktu senja. Tapi aku memang kalah. Aku merasa tak kuasa menjadikan cintaku lebih indah untuk dikenang.






