
Sikka, zonanusantara.com
Tim Relawan Untuk Kemanusiaan Flores ( TRUK-F) Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar doa
solidaritas dunia menentang rasisme. Doa tersebut digaungkan bersama puluhan perempuan penenun sarung ikat, Kamis (18/6)
Ketua Devisi Perempuan TRUK-F Suster Eustochia Monika Nata, SSpS mengatakan kekerasan karena suku ,warna kulit dan kedudukan sering terjadi dimana-mana. Dalam negara demokrasi sekalipun juga terjadi rasisme dan diskriminasi sosial. Ia mencontohkan kasus seperti yang terjadi di Amerika beberapa waktu lalu, polisi membunuh orang kulit hitam.
” Didalam negeri kita terjadi juga masalah yang serupa seperti kasus penembakan dan diskriminasi ras di Papua dan ditempat lain,”ungkapnya.
Biarawan Katolik ini menjelaskan peristiwa semacam itu selalu menimbulkan gejolak pada masyarakat. Persoalan rasisme dan diskriminasi sambung suster, telah memakan banyak orang.
Karena itu, ia bersama kaum perempuan lainnya korban kekerasan dan para janda di daerah itu dengan tegas menolak bentuk bentuk rasisme, diskriminasi terhadap perempuan dalam bentuk apapun.
Usai doa bersama, dilanjutkan dengan pembagian benang dari TRUK-F kepada kelompok penenun sarung yang berjumlah 40 orang.
Provinsial SSpS Flores Bagian Timur Suster Ines Surat Lanan, SSpS mengatakan TRUK-F, lembaga sosial yang tidak memiliki dana. Kendati demikian pihaknya selalu mendapatkan bantuan dari donatur.
“Bersyukur di saat pandemi TRUK-F mau berbagi berbekas kasih kepada para ibu. Karena itu harus dilipatgandakan belas kasih yang datang dari Tuhan,” ungkap Suster Ines.
Yuven Fernandez






