Veronika Lake : Kami Fokus Menangani Stunting

Veronika Lake : Kami Fokus Menangani Stunting
Veronika Lake
Veronika Lake : Kami Fokus Menangani Stunting
Veronika Lake

JAKARTA– Ketua Bidang Kesehatan, Pemberdayaan Perempuan dan Anak, YMTTN Veronika Lake, S.ST. RMIK, MM, menyatakan pihaknya mendapat mandat dari Ketua Yayasan Mitra Timor Terang Nusantara (YMTTN), agar ikut menangani masalah stunting.

Hal ini ia ungkapkan saat menghadiri pertemuan dengan sejumlah pengurus yayasan yang belum lama ini didirikan warga Diaspora Timor Tengah Utara, di Jakarta, belum lama ini.

Untuk diketuai yayasan yang dipimpin ketua umum Dr Frederikus Fios, ikut memperhatikan stunting (gizi buruk) sebagai masalah serius bangsa. Karena itu para pendiri yayasan ini memasukkan program pencegahan dan penanganan stunting di Kabupaten TTU, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Pimpinan YMTTN mengarahkan agar kami fokus untuk menciptakan program untuk pencegahan dan penanganan stunting,” ungkapnya.

Menurut Veronika, dalam menangani stunting, pihaknya menggandeng pemerintah, perusahaan, lembaga kemanusiaan internasional, serta donator pribadi berhati baik.

Veronika menjelaskan rasa keprihatinan atas angka prevalensi yang sangat tinggi di wilayah tersebut. Dikatakan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 angka prevalensi stunting di Timor Tengah Utara 25,3 persen. Dari prosentase tersebut 5.204 Balita di TTU yang mengalami gizi buruk.

Baca Juga :  Puluhan Tenaga Perawat Ikut Workshop Secara Online

“Angka prevalensi stunting di TTU bahkan lebih tinggi dari angka prevalensi provinsi yaitu 20,9 persen jika dibandingkan dengan kabupaten lain di NTT,” jelasnya.

Lebih miris lagi, 131 desa dari 194 desa di TTU memiliki angka bayi balita stunting lebih dari 20 persen. Veronika Lake menyebut Desa Fatusene, Kecamatan Miomaffo Timur menempati angka balita stunting sebesar 60 persen.

“Ini sangat memprihatinkan, selain jauh dari angka nasional sebesar 24 % juga mencerminkan sulitnya masa depan balita sebagai generasi masa depan TTU,” papar Veronika yang kini bekerja di lembaga penelitian dan pelatihan Areopagus Indonesia Jakarta.

Dengan kondisi ini Veronika berharap akan melakukan intervensi pencegahan dan penangangan stunting agar angka prevalensi stunting dapat ditekan dan bahkan suatu saat TTU bisa bebas stunting.

Karena itu, Veronika mengajak berbagai pihak untuk terlibat mengatasi stunting untuk menciptakan masa depan generasi muda di perbatasan.

Baca Juga :  Cegah Omicron, BINDA Jatim Gelar Vaksinasi Massal Dosis 2

“Intervensi stunting baik penanganan dan pencegahan stunting dilakukan secara komprehensif,” bebernya.

Veronika mengatakan stunting tidak hanya terkait intervensi kesehatan. Namun yang utama adalah, mengedukasi gizi kepada calon ibu dan suami, penyediaan air bersih, serta ketersediaan sayur-sayuran, buah-buahan, atau makanan sehat, peningkatan kapasitas serta pemberdayaan perempuan dan lain-lain.

Veronika menambahkan, YMTTN akan fokus melakukan berbagai intervensi di desa-desa dengan tingkat stunting tertinggi di TTU, agar selanjutnya melakukan kajian ilmiah untuk mengetahui dampaknya.

“Kami punya cita-cita menciptakan pola dan model penanganan stunting yang efektif dan cepat untuk ditularkan ke wilayah lain. Sehingga intervensi stunting menjadi komitmen dan perjuangan di daerah lain,” imbuhnya.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts