
MALANG– Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dinkeswan) Kabupaten Malang Jawa Timur akan memberikan bantuan berupa ternak kepada kelompok peternak di daerah itu. Bantuan ini Untuk mendukung program pemulihan ekonomi nasional (PEN).
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, Nurcahyo mengatakan pemberian bantuan tersebut dilakukan untuk menggairahkan dan menstabilkan kembali perekonomian sektor peternakan akibat pandemi Covid-19.
“Bantuan itu untuk kelompok peternak agar perputaran modalnya biasa normal kembali,” kata dia, Selasa (24/8).
Menurutnya bantuan yang diberikan secara bergulir. Hal ini dilakukan lantaran keterbatasan anggaran.
“Jadi program PEN ini untuk menstabilkan perputaran ekonomi peternak, maka kami berikan bantuan agar modal mereka berputar. Bantuannya, kalau untuk kelompok ternak sapi dibantu 5 ekor, kambing 11 ekor per kelompok ternak kambing,” terangnya.
Nurcahyo mengaku permintaan daging sapi saat ini mengalami penurunan dampak dari pandemi Covid-19 yang mengakibatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Malang sektor retribusi Rumah Potong Hewan (RPH) menjadi anjlok.
“Target PAD retribusi RPH 2021 sebesar Rp 405 juta. Tapi, sampai sekarang untuk semester I itu realisasinya di kisaran Rp 110 juta,” bebernya.
Untuk itu, tambah Nurcahyo, dirinya telah mengusulkan agar dilakukan rasionalisasi sesuai dengan potensi yang ada saat ini.
“Jadi kita kemarin minta didalam perubahan itu untuk bisa dirasionalisasi sesuai dengan potensi yang ada,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nurcahyo menegaskan selain penurunan permintaan daging sapi di Kabupaten Malang, juga dikarenakan adanya kebijakan PPKM yang selalu diperpanjang.
“Karena ada PPKM, kebutuhan daging di hotel, warung dan lainnya banyak mengalami penurunan. Sehingga pembelian atau permintaan daging sapi di RPH kita menurun sekitar 50 persen,” ucapnya.
Terakhir, Nurcahyo menyebutkan, penurunan permintaan daging sapi tersebut juga berakibat pada rendahnya perputaran ekonomi kelompok ternak di Kabupaten Malang.
“Dulu rata rata minimal masih 70 persen, sekarang tinggal 40 sampai 50 persen. Jadi pemotongan di RPH menurun karena pasarnya menurun. Dampaknya, perputarannya mengalami penurunan juga,” tukasnya.





