
Oleh : Yosef Naiobe
Sampai saat ini saya belum menemukan terminologi arti kata daun pintu. Apakah harafianya adalah pintu memiliki daun? Kebuntuan cara berpikir saya sama sulitnya menangkap maksud sejumlah anggota dewan menyegel ruang pimpinan lantaran rapat dewan yang mulia ditunda.
Sampai di ranah ini, logika dan rasionalitas cara berpikir saya pun menjadi berantakan. Tidak simetris pada alur berpikir yang baik dan benar. Bagaimana mungkin suatu rapat ditunda, diekspresikan kepada benda di sekeliling yang tak ada korelasinya?
Sama seperti kekonyolan atau ekstrimnya, kebodohan saya akan arti daun pintu tadi.
Sebagai jurnalis, saya menjadikan setiap berita, menu harian pagi. Ditambah pengalaman meliput di sejumlah daerah sedikitnya delapan propinsi untuk salah satu media nasional. Berita adalah salah satu formula yang membentuk cara orang memandang sebuah peristiwa dengan logika berbanding lurus. Bukan sebaliknya.
Namun berita tentang menyegel ruangan pimpinan, karena rapat di tunda, menghantar saya pada ruang kosong. Lorong gelap. Saya tidak menemukan formula yang cerdas dalam peristiwa itu. Mudah mudahan ini bukan sebuah sensasi atau drama yang dimainkan tanpa sudradara.
Kalau sensasi untuk mendapat penilaian positif dari unta dungu, mungkin iya. Tapi bukankan pintu sebuah gedung milik publik yang dibangun menggunakan uang rakyat?
Kalau hanya sekedar menunda sebuah rapat yang maaf mungkin tidak terlalu urgen bisa dijadwal ulang. Atau, dengan alasan pandemi covid 19, anggota dewan yang mulia bisa lihat saja absensi. Siapa yang selama ini malas, atau yang selama ini duduk manis karena hemat suara. Semua bisa diatur. Nonton Film Warkop DKI, (Dono, Kasino, Indro). “Itu saja kok repot,”. Begitulah guyonan cerdas Gus Dur (alm).
Di zaman yang serba canggih dengan teknologi informatika, sebagian manusia di kolong langit ini masih buta dengan perkembangan teknologi. Ini lelucon yang tidak mengundang tawa.
Cerita akan menjadi indah kalau penundaan itu berkaitan dengan rakyat lapar atau kasus galian C yang selama ini dikeluhkan masyarakat. Rakyat bakal memberi aplaus panjang. Seperti sebuah nyanyian yang dilantunkan secara bersama dalam paduan suara yang merdu dan indah yang bikin merinding bulukuduk.
Dari hulu hingga hilir memang tak pernah lurus. Berliku. Berkelok. Namun muaranya satu tujuan. Cara berpikir yang kontekstual akan menempatkan persoalan secara proporsional pada porsi yang sebenarnya. Seperti analogi di atas, alur dari hulu menuju hilir memang tak pernah lurus. Berliku.
Memperjuangkan sebuah hakekat kebenaran memang tidak mudah. Namun harus memulai. Dalam konteks menyegel pintu atau lebih tepat merusak pintu gedung dewan, terlepas ruangan itu diduduki pimpinan atau anggota. Sekali lagi tindakan seperti itu mempresentasikan cara berpikir yang sulit ditakar akal sehat. Tidak pada tempatnya. Semestinya amarah itu bisa diekspresikan pada manusia atau pemilik ruangan bukan benda mati sekelas pintu.
Saya membayangkan jika pintu itu harus diganti. Mudah mudahan tidak. Karena kalau mengganti dengan yang baru, dus berarti menggunakan uang rakyat lagi kan? Nah….
Personafikasi menakar akar masalah memang membutuhkan kecerdasan berpikir meramu persoalan. Atau, kita akan terus terjebak dalam egosentrisme penonjolan diri agar terlihat seperti memperjuangkan sesuatu padahal hasilnya belum tentu memuaskan atau bahkan nihil.
Saya masih ingat pakar politik, J. Piliang : Menjual orang miskin tidak akan pernah laku. Mudah – mudahan saya tak salah kutip. Kalau saya salah, layar ini bisa menjadi ruang pemaaf.
Seperti sebuah perjumpaan, waktu selalu datang bersama tamu bernama PERPISAHAN. Sampai di sini jika kita juga belum menemukan titik terang, tulisan opini ini saya sudahi. Terenggut bersama sang waktu.
Yosef Naiobe, Wartawan peraih juara II Lomba Karya Jurnalistik, Hari Pers Nasional (LKJ HPN) di Malang, Jawa Timur. Bekerja di Jakarta.






