HomeSosial BudayaLebih Dekat Bupati David Juandi, Humanis dan Humoria

Lebih Dekat Bupati David Juandi, Humanis dan Humoria

BupatI David Juandi

 

“Saya masih bicara dengan wartawan Indonesia,” kata David Juandi seraya melepaskan tawanya yang renyah.

Malam itu sesuai janji via ponsel pribadinya, saya diberi waktu untuk bertemu di salah satu hotel yang telah disebutkan. Kesempatan ini saya maksimalkan. Di tengah padatnya arus lalu lintas kota metropolitan, saya tiba kurang 45 menit lebih awal dari waktu yang disepakati.

Sekitar lima menit bersama bupati David Juandi, pikiran saya menerawang pada belasan tahun silam. Sambil bercanda, bupati yang energik ini memperkenalkan saya pada rombongan lain yang juga ingin bertemu di lobi hotel yang sama.

“Saya masih bicara dengan wartawan Indonesia,” kata David Juandi seraya tertawa.

Tak pernah berubah kendati telah menjadi orang nomor satu di daerah perbatasan Indonesia – Timor Leste itu. Keluar dari sekat protokoler yang selama ini melekat erat dengan pejabat publik. Tampak santai. Itulah kesan yang saya tangkap dari bupati David Juandi ketika bertemu di salah satu hotel di Kemayoran, Jakarta.

Lantaran banyak tamu, saya pun mempersingkat waktu. Daftar pertanyaan yang saya siapkan sebelumnya terlupakan. Tampias entah ke mana dibatasi waktu yang sangat singkat dan padat.

Belasan tahun silam, ketika saya masih aktif memgirim berita untuk salah satu media televisi nasional, saya mengenal simpatisan Golkar ini sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Timor Tengah Utara, era bupati Gabriel Manek. Ketika rezim berganti, David Juandi tetap aman dipercaya bupati pengganti Gabriel Manek, untuk memegang jabatan sebagai kepala dinas hingga memasuki usia purna sebagai seorang Aparatur Sipil Negara.

David Juandi dinilai cerdas membaca arah angin. Ia juga dianggap piwai mencermati pergerakkan bandul politik yang bergeser dari bupati Gabriel Manek ke Raymundus Fernandez. Meski ada kedekatan emosional dengan Gabriel Manek, suami  dari Elfira B. M. Ogom Juandi ini tetap dipercaya memangku jabatan sebagai kepala dinas di beberapa instansi oleh bupati Raynundus Fernandez.

Hal yang membuat dirinya dikenal banyak orang adalah sikapnya yang humanis dan suka bercanda, selalu bertegur sapa dengan siapa saja yang ditemuinya. Guru – guru di wilayah itu mengenal baik karakter putra Biboki Selatan ini saat masih menjabat sebagai kepala dinas pendidikan.

Selain itu David Juandi pun dikenal sangat dekat dengan wartawan. Dalam kedekatan ini acapkali tidak “harmonis”. Wartawan sering mengangkat tema kebijakan yang dinilai tak berpihak. Berpijak pada garis tak berpijak. Sebuah keputusan yang tak populis menjadi isu sensitif. Sebut saja sebagai contoh di sini, ketika bupati mengangkat kepala dinas dari lingkarannya atau kelompok pendukung, akan dianggap sebagai balas jasa.

Bupati David Juandi dan waki bupati Eusabius Binsasi pun tak pernah luput dari tajamnya pena wartawan. Saya termasuk wartawan yang kerap mengkritisi kebijakan beliau. Tulisan terbaru mengenai larangan bertemu bupati di hari libur. Belakangan diketahui larangan tersebut dikeluarkan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja setempat, tanpa sepengetahuan bupati David Juandi. Sebelum ada klarifikasi, tulisan saya beredar luas di media sosial, akun facebook maupun GWA. Apa lajur.

To the poin pada titik pertemuan. Saya menyampaikan suatu informasi kepada bupati, yang berkaitan dengan kepentingan daerah yang dipimpinnya. Karena tidak memiliki kapasitas, sebatas memberikan informasi, dengan harapan ada atensi dari bupati. Jika dianggap penting. Apa urgensi di balik pertemuan yang cuma berlangsung lima menit tersebut? Menjadi tidak elok ditulis di sini. Namun yang jelas bukan kolusi menabrak konstitusi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

TERBARU