KEFAMENANU,- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar selebrasi rutin tahunan.
Lebih dari itu, perayaan kali ini menjadi panggung ekspresi nilai-nilai Pancasila dan Kearifan Lokal lewat proyek nyata yang ditampilkan para siswa SMA dan SMK dalam bentuk pameran produk serta Gebyar SMK.
Sebanyak 29 stan pameran berdiri kokoh di arena kegiatan, masing-masing menyuguhkan hasil karya siswa yang menjadi bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dari hasil tenunan, kerajinan tangan, hingga inovasi produk olahan lokal, semua ditampilkan dengan semangat dan kebanggaan.
“Anak-anak kita telah menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal teori di kelas, tetapi juga tentang mengenal dan mengembangkan potensi lokal yang dimiliki. Ini yang sedang kita dorong melalui P5,” kata Dra. Elvira Bertha Maria Ogom, Koordinator Pengawas SMA/SMK dan SLB Kabupaten TTU.
P5 sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka menjadi strategi pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat. Kegiatan yang ditampilkan dalam Hardiknas kali ini membuktikan bahwa pendekatan tersebut mulai membuahkan hasil.
Dari 52 sekolah yang berpartisipasi, sebagian besar menampilkan produk berbasis budaya, seperti tenun, kuliner tradisional, hingga aplikasi teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
“Dinas juga mendorong adanya muatan lokal dalam kurikulum sekolah. Maka, selain tenun yang sudah hampir merata di 52 sekolah, sekolah-sekolah lain berinovasi dengan produk khas daerah masing-masing,” tambah Elvira.
Selain pameran, suasana semarak juga hadir melalui 9 mata lomba yang digelar di SMA Pelita Karya Kefamenanu, antara lain debat, baca puisi, pantun, menyanyi lagu daerah, hingga lomba cerdas cermat 4 pilar kebangsaan dan perpustakaan sekolah.
Lomba-lomba ini menunjukkan bahwa literasi dan numerasi kini juga dikembangkan lewat pendekatan kompetisi yang menarik dan kontekstual.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTU, Beato Yoseph FR Omenu, mengatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi menjadi kunci utama dalam menyukseskan rangkaian kegiatan Hardiknas tahun ini.
Ia juga menekankan pentingnya semangat gotong royong dalam mendorong kualitas pendidikan yang merata.
“Kami mengutip tema Hardiknas 2025 Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua. Semangat ini yang kami wujudkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, dari senam, tarian massal NTT Menari, hingga pameran dan lomba,” ungkap Beato.
NTT Menari sendiri menjadi salah satu kegiatan ikonik pada peringatan Hardiknas tahun ini. Melibatkan 1.500 siswa dari SD, SMP, hingga SMA/SMK, kegiatan ini tidak hanya menciptakan momen rekreasi, tetapi juga menjadi bagian dari pencatatan Rekor MURI yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi NTT dalam program 100 hari kerja.
“Kami sangat bangga bisa menyumbang 750 penari dari jenjang pendidikan dasar untuk bergabung bersama 750 siswa SMA/SMK. Ini bentuk nyata kolaborasi lintas jenjang pendidikan di TTU,” tambah Beato.
Dengan ragam kegiatan yang sarat makna ini, Hardiknas 2025 di Kabupaten TTU tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga refleksi dan langkah konkret dalam membumikan nilai-nilai pendidikan berbasis Pancasila dan budaya lokal.
Langkah ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan mencintai tanah kelahirannya.






