
MALANG– Pengiriman Pekerja Migran Indonesia ke Luar Negeri hingga kini belum berjalan normal. Situasi ini dialami sejak pandemi covid 19.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang, Drs Yoyok Wardoyo MM mengatakan dalam masa transmisi pengiriman PMI ke luar negeri ini, pihaknya mengajak semua stakeholder yang terkait duduk bersama dan mencari solusi.
“Mari kita sikapi secara bijak. Mencari solusi bersama,” kata Yoyok Wardoyo, Rabu (3/3).
Yoyok menjelaskan, kendati saat ini pengiriman PMI masih belum berjalan normal, namun masih ada waktu untuk meningkatan kompetensi bagi calon PMI.
“Infonya, untuk pelatihan CPMI, se Jatim dilatih sekitar 800 hingga 900 orang. Kuota untuk Kabupaten Malang masih belum ditentukan,” jelasnya.
Karena itu pihaknya mengundang Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja (P2TK) Disnakertrans Provinsi Jawa Timur, UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Wonojati dan BLK Singosari Disnakertrans Jawa Timur. Lembaga tersebut mendukung pelatihan bagi CPMI.
“Di UPT-UPT itu, ada program yang mendukung pelatihan bagi CPMI,” ungkap Yoyok.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan, Rahmat Yuniman mengaku selama pandemi covid 19 pengiriman PMI belum normal.
“Selama pendemi ini pengiriman masih ditutup dan belum dibuka normal,” aku dia
Dalam pertemuan yang digagas Disnaker setempat dengan pihak terkait Rahmat Yuniman mengatakan bertujuan untuk mencegah pengiriman PMI ilegal, meningkatkan keterbukaan Perusahan Penempatan PMI (P3MI) dalam hal penempatan. Serta menjamin perlindungan bagi PMI.
Sementara itu, dalam paparannya, Kepala UPT P2TK Disnakertrans Provinsi Jawa Timur, Budi Raharjo menjelaskan, Jawa Timur memiliki delapan prioritas program ketenagakerjaan. Salah satunya adalah vokasional training pasca kepulangan PMI.
Kemudian, di UPT BLK Wonojati dan Singosari memiliki beragam program yang berbeda untuk peningkatan kualitas CPMI. Salah satunya adalah pengasuh bayi, care taker dan pembersih rumah.





