HomeOlahragaSang Juara Karate itu Ternyata Anak Yatim dan Memulung

Sang Juara Karate itu Ternyata Anak Yatim dan Memulung

Syaiful bersama pialanya

MALANG – Nama Aditya Syaiful Anam mendadak tenar di media sosial. Lantaran jago beladiri kareta bocah 12 itu menyabet juara favorit pada kejuaraan karate di Malang belum lama ini. Atas prestasinya itu pula Bupati Sanusi menghadiahi siswa kelas 6 SDN 2 Jenggolo, ini sebuah sepeda pancal.


Namun dibalik kisah mengharum yang disandang Aditya Syaiful Anam, tersimpan juga potret kehidupan yang mengharukan. Hidup dalam kesederhanaan, jagoan karate yang terbilang masih ingusan ini harus ikut membanting tulang. Memikul beban bersama sang ibu, Sulastri. Saban hari ia ikut membantu Sulastri memulung barang bekas.

Kisah pelik yang menghampiri ibu dan anak ini diceritakan Sulastri atau yang disapa
Sum. Syaiful selain sekolah dan latihan karate, juga ikut membantu mencari rongsokan-rongsokan untuk dijual.

“Ya saya kan kerjanya mengumpulkan rongsokan. Biasanya Syaiful itu ikut saya nyari rongsokan. Dia pun gak masalah. Dia berbakti sama orang tuanya,” tutur Sum.

Kerasnya kehidupan membuat Syaiful yang menyandang status anak yatim lantaran ditinggal sang ayah (almarhum) harus berjuang. Ia pun harus pandai membagi waktu antara sekolah, latihan dan membantu ibu.

Syaiful ini, kata Sum, memiliki sifat kukuh untuk mencapai cita-citanya yang ingin membanggakan ayahnya yang telah meninggal dunia.


“Ayahnya meninggal saat saya melahirkan Syaiful. Sejak kecil memang ingin membanggakan saya sama ayahnya yang tinggal di sana,” ucapnya dengan mata menerawang membayangkan suaminya.

Dalam sehari-harinya, lanjut Sum, dirinya bersama Syaiful tinggal menumpang di kediaman ibu Sum bernama Warsih, di Jalan Sentono, Rt.04, Rw.01, Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen.

Hal itu disebabkan, kondisi rumah Sum dan Syaiful mengalami kerusakan akibat terkena gempa bumi yang terjadi pada bulan April 2021 silam, yang membuat sebagian atap rumah ambruk.

“Itu pas gempa dulu, sampai sekarang saya tidak mendapat bantuan. Jadi ya saya biarkan begini tak buat sebagai gudang. Saya dan Syaiful tinggal sama ibu saya di sebelah,” bebernya.

Meskipun rumahnya hancur akibat gempa dan tidak mendapat bantuan, Sum pun tetap bersyukur, lantaran saat gempa bumi terjadi, tidak ada korban jiwa.

“Saat itu gak ada yang di rumah. Tiba-tiba pas lihat rumah saya ketiban pohon pisang,” pungkasnya.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


TERBARU