
KENDAL, ZONANUSANTARA.COM—Menyongsong Indonesia Emas di 20245, Pesantren harus bisa menjadi garda terdepan dalam menyiapkan generasi yang tangguh.
Terutama dalam pengembangan SDM, kreativitas, dan memperkuat spiritualitas para santri untuk pembangunan Indonesia yang lebih tangguh.
Demikian dikatakan, Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, KH Ahmad Fadlullah Turmudzi dalam acara Naharul Ijtima’.
Acara digelar di Pondok Pesantren Darul Amanah, Sukorejo, Kendal, Sabtu (25/1) lalu.
Hal itu menurutnya sesuai dengan tema Naharul Ijtima’ tahun ini, yakni “Revitalisasi Pesantren dan Penguatan Spiritual untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045”.
Sebab saat ini, kebutuhan pesantren adalah mengangkat dan menumbuh kembangkan lagi penguatan spiritualitas santri untuk menyongsong Indonesia Emas di 2045.
Selain itu, pesantren juga harus siap melihat bagaimana perkembangan dinamika sesuai era saat ini.
“Makanya, di Naharul Ijtima ini, pihaknya menggelar berbagai Halaqoh mulai dari pengasuhan pesantren, manajemen pengasuhan, pesantren riset, pesantren media,” kata ulama muda yang akrab disapa Gus Fad itu.
Sebab peran RMI NU tidak hanya mengkoordinir pesantren, tapi juga lembaga pendidikan lainnya, seperti madrasah diniyah, TPQ dan pengajaran lain yang ada di masyarakat.
“Ini penting, untuk mempersiapkan generasi yang lebih baik,” jelasnya.
Pesantren di Jawa Tengah, hukumnya wajib berperan dalam pembangunan Indonesia.
“Kiai, bu nyai dan santri sebagai bagian penting dari ekosistem pesantren siap berkontribusi dalam membangun Indonesia dan mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Ketua PWNU Jateng, KH Abdul Ghaffar Rozin, menekankan penting untuk membangun kepedulian terhadap pesantren oleh semua pihak.
Terutama sistematis kebijakan dari pemerintah pusat. Sehingga kemajuan Pendidikan Pesantren ini tidak hanya dibebankan kepada kiai atau pengasuhnya saja.
Terlebih saat ini, lulusan pesantren setara dengan pendidikan umum. Sehingga lulusan pesantren juga bisa menjadi insinyur, doktor, teknik sipil dan sebagainya.
“Sepanjang lolos dan layak. Tapi perguruan tidak boleh menolak karena alasan ijazah,” tambahnya.
Direktur Pesantren, pada Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengatakan saat ini pihaknya sedang mengupayakan agar santri bisa menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami sedang mengupayakan, sebab di Indonesia ini ada 41 juta lebih santri. Mereka juga berhak untuk mendapatkan MBG dari pemerintah,” imbuhnya.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Terpilih, Taj Yasin Maimoen yang hadir di Naharul Ijtima’ berharap pondok pesantren menjadi garda terdepan dalam melawan bullying dan kekerasan seksual.
Ditegaskan pesantren tidak menerima aksi kekerasan berupa perundungan atau bullying dan kekerasan dalam kehidupan dan belajar mengajar.
“Aksi perlawanan ini diharapkan dapat menjadi tren yang diikuti oleh pondok pesantren di seluruh Indonesia. Sehingga kali ini ada pembahasan bagaimana pondok pesantren ada tren bahwa pondok pesantren anti atau tidak ada bullying. Perlu kita sebarkan bahwa pondok pesantren tidak ada bullying lagi,” tegas Gus Yasin. [elg]






