MALANG – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Regional Office Malang terus memperkuat komitmennya dalam mengakselerasi produktivitas UMKM. Hingga Maret 2026, BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp5,557 triliun kepada 117.387 debitur di wilayah kerjanya.
Regional Micro Banking Head BRI Region Malang, Tito Witarnawan, mengungkapkan bahwa penyaluran KUR kali ini didominasi oleh sektor-sektor strategis. Sebanyak 47,29 persen dari total plafon dialokasikan untuk sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan.
”Pembiayaan ini kami arahkan untuk mendukung aktivitas usaha yang memberikan nilai tambah riil bagi ekonomi daerah. Secara geografis, serapan KUR tertinggi berada di wilayah Blitar, Ponorogo, dan Kediri,” ujar Tito.
Penyaluran KUR ini bukan sekadar bantuan permodalan, melainkan wujud nyata dukungan BRI terhadap visi Astacita Pemerintah. Tujuannya adalah memperkuat struktur ekonomi nasional, memperluas lapangan kerja, dan mendorong pemerataan pembangunan di daerah.
Menurut Tito, akses modal yang mudah memungkinkan pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat daya saing lokal. Namun, BRI tidak berhenti pada aspek finansial semata.
”Kami juga memberikan pendampingan usaha dan edukasi finansial. Tujuannya agar para debitur tidak hanya mendapatkan modal, tetapi juga mampu mengelola usaha secara profesional dan berkelanjutan,” tambahnya.
Menatap sisa tahun 2026, BRI Regional Office Malang optimistis dapat terus menjadi motor penggerak ekonomi inklusif. Strategi utama yang diusung adalah mendorong pelaku usaha untuk bertransformasi ke ranah digital.
”Kami berkomitmen mendampingi UMKM agar melek digital. Dengan memanfaatkan platform penjualan daring, kita harapkan kapasitas usaha mereka meningkat dan bisa segera ‘naik kelas’,” tegas Tito.
Sebagai informasi, performa ini melanjutkan tren positif dari tahun sebelumnya. Pada 2025, BRI Regional Office Malang sukses menyalurkan KUR senilai Rp20,359 triliun kepada 472.748 debitur, dengan porsi sektor produktif (pertanian, perikanan, dan perdagangan) mencapai 53,03 persen.






