Petani Pengepul Batok Kelapa Kesulitan Jual ke Pabrik

Petani Pengepul Batok Kelapa Kesulitan Jual Ke Pabrik
Foto Setiawan Liu

Oleh Setiawan Liu- Jakarta

Sejumlah petani (pengepul) batok kelapa di sejumlah daerah antara lain, Batang, (Jawa Tengah), Kalimantan Selatan, Tabanan (Bali) mengeluh lantaran belum ada kesepakatan dengan pihak pabrik (manufacturing) mengenai harga transaksi tempurung (batok) kelapa sebagai bahan baku arang briket.

“Kesulitannya, harga tidak masuk (tidak untung) untuk supply ke pabrik. Ujung-ujungnya biaya produksi tidak sesuai dengan harga transaksi,”ujar owner business Agriculture di Kalimantan Selatan, Adeline Munir, belum lama ini.

Ia mencontohkan di Kalimantan, banyak tempurung kelapa. Tapi harus koordinasi dengan petani. Karena itu ia mengaku menjadi tantangan para petani.

Saat ini harga tempurung kelapa dipatok Rp 25.000/karung dengan kondisi masih mentah. Lanjutnya tempurung kelapa selama ini diperlukan untuk memanggang sate. “Dan ini dibutuhkan sebagian warung-warung makan, restoran. Terutama pada hari-hari raya, seperti Lebaran, Natal Tahun Baru. Pada hari besar agama kebutuhan akan batok kelapa (tempurung) meningkat sehingga harganya mencapai Rp 18.000 per kilogram.

Baca Juga :  Bank bjb Salurkan Kredit Rp 105,1 T untuk UMKM

Bahkan menurut Owner Business Agriculture di Batang, Tri Yanuar mengaku di Batang Jawa Tengah, ada pengepul tempurung yang bisa kirim satu container ke Salatiga setiap harinya. “Tempurung kelapanya mudah didapat dari berbagai daerah, termasuk Lampung,”tandany.

Sementara di Bali sebagaimana dikatakan I Wayan Kutia masih terus mengestimasi biaya dan keuntungan dari penjualan tempurung kelapa yang selama ini diolah menjadi briket atau arang, ketimbang dibuang begitu saja sebagai limbah. Petani bisa mengeringkan tempurung di daerahnya sebelum dijual kepada produsen briket arang termasuk yang pabriknya berlokasi di Bogor, Jawa Barat. Ia pun mengestimasi harga penjualan tempurung dipatok Rp 4000.

Pengepul biasanya menimbang dulu kelapa yang basah pada tingkat petani. Kalau untuk produksi arang briket, pengepul harus membakar batok atau tempurung yang harus sesuai dengan SOP (standard operating procedure). Pada proses tersebut
estimasi biaya pembelian batok kelapa yang masih belum diolah/dibakar dengan satuan per ton, sampai menghasilkan batok kelapa kering.

Baca Juga :  SiCepat Ekspres Optimis Hadapi Lonjakan Paket Ramadan

Perhitungan pembelian dan penjualan kelapa yang belum dan sesudah diolah, menentukan harga dan keuntungan.

“Kalau tidak ada titik temu estimasi keuntungan kami khawatir rugi,”ujarnya menambahkan kalau quantity per ton dibutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak, peralatan seperti drum, dan lain sebagainya. Pproses pengeringan tidak bisa dengan bakar tempurung di tanah, karena pecahnya kecil-kecil. Intinya masalah proses pengeringan tempurung petani sangat paham teknisnya. Termasuk proses pengeringan tempurung di Blitar, Jawa Timur.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts