KEFAMENANU,- Perayaan emas 50 tahun Paroki Santo Andreas Rasul Tunbaba bukan sekadar momen nostalgia, tetapi juga refleksi atas kontribusi besar paroki ini dalam melahirkan para rohaniwan Katolik.
Salah satu tokoh yang lahir dari paroki ini adalah Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, yang memimpin langsung Misa Syukur perayaan tersebut.
Dalam homilinya, Uskup Dominikus menekankan bahwa kematangan gereja tidak diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari kesetiaan dalam kasih, pelayanan, dan pengorbanan.
Ia mengajak umat untuk meneladani Santo Andreas Rasul yang hidup dalam kesederhanaan dan menjadi jembatan bagi sesama untuk bertemu Kristus.
Paroki Tunbaba telah menjadi ladang subur bagi panggilan imamat. Selain Uskup Dominikus, paroki ini juga melahirkan Pater John Gualbert Salu, SVD, yang merayakan 40 tahun hidup membiara pada tahun 2023. Kehadiran para rohaniwan ini menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mengikuti jejak mereka dalam pelayanan gereja.
Pastor Paroki, Romo Robby Kiik, Pr, menyatakan bahwa semangat pelayanan dan pengorbanan para rohaniwan asal Tunbaba menjadi teladan bagi umat.
Ia berharap agar generasi muda terus terpanggil untuk melayani Tuhan dan sesama melalui berbagai bentuk panggilan hidup.
Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yosep Falentinus Delasalle Kebo, didampingi Wakil Bupati Kamillus Elu, menghadiri seusai misa syukur, menyebutkan bahwa perjalanan 50 tahun ini adalah momen emas dan simbol Yubelium tahun pembebasan dan rahmat Tuhan.
Ia menyampaikan profisiat kepada umat dan pastor, sekaligus berharap paroki terus bertumbuh dalam iman, melayani dengan kasih, dan menghadirkan keadilan sosial.
Angka 50 diangkat sebagai simbol kedewasaan dan panggilan untuk menjadi terang dan garam dunia meneladani St. Andreas yang meninggalkan jala untuk mengikuti Kristus.
Bupati menyerukan semangat sinodalitas membangun paroki secara gotong royong, mendengar dan bertindak bersama, serta memperhatikan kaum miskin dan tersisih.
Ia juga mengajak paroki menjadi pijakan harapan baru bagi pembangunan daerah. Memperingati 50 tahun paroki bukan sekadar ritual, tapi panggilan untuk refleksi spiritual dan pembaruan pelayanan.
Bupati mengakui tantangan pendahulu fasilitas, tenaga pastoral, perubahan zaman namun menyoroti bagaimana iman komunitas telah bertahan dan berkembang.
Perayaan 50 tahun Paroki St. Andreas Rasul Tunbaba menjadi momen symbiotik merawat akar iman gereja dan memperkuat komitmen pada pembangunan daerah.
Melalui sinergi antara iman (gereja) dan tindakan nyata (pemerintah/masyarakat), paroki diharapkan bisa menjadi agen perubahan yang membawa harapan dan keadilan sosial di TTU.






