Salon Legendaris di Bogor, Jadi Langgan ibu-ibu Pejabat Negara

Salon Legendaris Di Bogor, Jadi Langgan Ibu-Ibu Pejabat Negara
Pelanggan era 80an

Oleh Setiawan Liu

Salon dan penata rias rambut Susanna di Jl. Sawojajar Bogor kini melegendaris, sejak era 80an menjadi langganan ibu-ibu pejabat tinggi termasuk wanita muda berusia 25 – 35 tahun, berstatus ekonomi sosial menengah ke atas, dengan pendidikan minimal S1. Usaha tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1965.

“Tahun 1963, saya lulus SMA Regina Pacis Bogor, saya lanjut kursus (tata rambut) di Coiffure, dengan orang Belanda. Tahun 1964, saya sempat sibuk kuliah di fakultas hukum UKI (Universitas Kristen Indonesia) Jakarta, tapi tidak dilanjut karena saya lebih tertarik dengan kegiatan hair stylist and beautician,” kata Susanna, ” Senin (17/10/2022).

Dikatakan sejak 1965-1966, ia berusaha upgrading (kegiatan tata rias) dengan membuka salon di Bogor Permai (toko roti). Ia mulai dengan satu kaca dan terus bertambah. Sejak ikut kursus di Coiffure tahun 1964, secara basic nya saja, terus berlanjut sampai tahun 1965.

Salon Legendaris Di Bogor, Jadi Langgan Ibu-Ibu Pejabat Negara
Pelanggan Era 80An

“sambil terus meningkatkan skill (tata rias, kecantikan), saya sudah buka salon. ibu Hartini Soekarno (istri keempat Presiden RI Soekarno; September 1924 – Maret 2002), para istri bupati sampai sekarang masih datang ke salon saya,” kata Susanna.

Baca Juga :  Investor Pengolahan Pinang di Langkat Ingin Tetap Ekspor di Tengah Permasalahan Hukum

Coiffure berlokasi dekat Ragusa (kedai es krim)  Jl. Veteran I dan tidak jauh dari gedung Sekretariat Negara (Setneg). Ia berkenalan dengan orang-orang The Goodyear Tire & Rubber Company, pabrik ban mobil yang dekat dengan Bogor Permai. Di Coiffure, orang Belanda mengajar gunting rambut, dan ia mengambil materi yang sangat dasar. Coiffure tidak menggunakan konsep untuk penataan, sebaliknya hanya mengajarkan bagaimana cara gunting rambut, keriting, hairstyling. Setelah mengikuti kursus selama enam bulan, ia optimis membuka salon.

“Langganan-langganan pertama, pemilik gedung Doea Tjangkir (yang sekarang menjadi café resto). Saya sempat belajar style (tata rambut) ala Jepang, kita hanya boleh mengerjakan satu part. Kalau gulung (rambut), gulung terus. kalau tidak rapih, tidak boleh lanjut,”ujar Susanna.

Tempat awal salonnya, awalnya keluarganya terutama kedua orang tuanya membeli gedung di Jl. Sawojajar, Bogor. Pembelian gedung tidak sekaligus, melainkan bertahap atau cicil. Karena kedua orang tuanya berprinsip, bahwa untuk kehidupan yang lebih layak dengan memiliki rumah. “Saya pindah ke situ, dan buka salon. Awalnya saya bantu Bogor Permai untuk management Restaurant dan Bakery (took roti), penunjang Mini market. Lalu almarhum ibu saya pindah, rumah dibikin menjadi salon,” kata perempuan kelahiran tahun 1945.

Baca Juga :  Arief Waworuntu Bisnis Kuliner di tengah Pandemi

Perjalanan panjang menjadi seorang legenda penata rambut adalah rentetan kegiatan usaha yang saling berkaitan, termasuk tata rambut. Ia sempat buka usaha fashion dan garmen. Ia sempat sekolah di Pivot Point, Vidal Sassoon, Martha tilaar kosmetika. Selain kerja keras dan ketekunan, kedua orang tuanya juga terus mendorong. Apalagi ia seorang anak perempuan, yang diharapkan tidak bekerja di luar rumah terlalu lama.

“Saya buka sekolahan Pivot Point Academy beauty school tahun 1989 – 1992, pusatnya di Jakarta. Sejak itu saya semakin tahu dan mengenal berbagai konsep (tata rambut, kecantikan). Saya mengerjakan sesuatu bukan tanpa dasar, tapi dengan konsep,” pungkasnya.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts