Home Hukum & Kriminal Sekdes Banain A,  Nyaris Adu Jotos Dengan Warga

Sekdes Banain A,  Nyaris Adu Jotos Dengan Warga

Ilustrasi

KEFAMENANU,- Gara-gara pengadaan porang, Sekertaris Desa Banain A Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Theodorus Lian nyaris adu jotos dengan warganya.

Penyebabnya adalah tidak prosedural karena tanpa melalui musyawarah dusun (musdus) dan musyawarah desa (musdes) dan diduga kuat terjadi mark up harga.

Kata Marselinus Abi, warga RT/RW 002/001 kepada awak media belum lama ini di Desa Banain A.

Juknisnya, kata Marselinus pengadaannya mestinya dilakukan melalui musdus dan musdes dan selanjutnya disosialisasikan kepada  masyarakat.

“Kami protes, karena pengadaan porang ini tidak melalui forum musdus atau musdes,”katanya.

Selain tidak prosedural, pengadaan porang imbuh Marselinus diduga kuat terjadi mark up harga. Pasalnya anakan yang diambil dari Desa Banain, A, B, C dengan harga Rp. 1000 dijual kembali ke Banain A dengan harga Rp. 10.000.

“Ini jelas-jelas mark up harga. Dan yang ambil hanya perangkat desa sedangkan masyarakat tidak. Dana desa itu untuk berdayakan masyarakat desa setempat bukan masyarakat desa lain,”katanya dengan kecewa.

Sementara itu  Sekretaris Desa Banain A, Theodorus Lian, saat dikonfirmasi di kantor desa menyampaikan bahwa semua sudah melalui musyawarah.

“Semua kegiatan di desa melalui musyawarah, dari musdus sampai musrenbangdes. Hasil usulan dari desa, porang ini menjadi prioritas sehingga pemerintah desa alokasikan anggaran untuk pengadaan porang,”kata Lian mengelak.

Menurutnya, kemelut yang terjadi hanya perbedaan pikiran warga saja.

“Ini hanya perbedaan pikiran warga saja. Kita (pemdes) sudah konsultasikan ke Inspektorat dan pihak-pihak terkait dan juga Dinas PMD untuk diasistensi sehingga disarankan untuk tidak kasih masyarakat uang tapi harus dalam bentuk barang,” tambah Lian.

Tentang protes warga, Lian mengatakan, protes itu terjadi karena sebelumnya warga tidak ikut musyawarah.

“Itu hari kan tidak ikut , jadi sekarang sudah ada anakan ini baru protes,” katanya.

Pengadaan porang ini usulan dari  dusun 2, RT 3 dan 4 dan menjadi usulan desa sehingga hasilnya untuk semua masyarakat desa dengan total 10.000 anakan porang dengan dana senilai Rp 100 juta.

“Terkait harga itu betul. Di Banain bisa Rp 1. 000 karena cabut dan langsung tanam, tapi dalam pemerintah lewat pihak ketiga, bukan dari orang perorangan karena kita butuh dokumentasi,”tandas Lian.

Lian berharap masyarakat harus membangun komunikasi agar tidak salah paham.

“Kita harap agar masyarakat harus selalu komunikasi dan aktif dalam kegiatan musyawarah di desa sehingga tidak terjadi salah paham ketika ada bantuan seperti ini,”pinta Lian.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU